Wednesday, December 14, 2011

SMGR Menembus Upper Bollinger Band, Berpeluang Terkoreksi Sehat


SMGR telah mencapai minor targetnya di level 10800 – 10850 dengan volume yang tinggi. Pencapaian ini menjadikan SMGR Break All Time High dimana level tertinggi sebelumnya ada di 10350. Saat ini SMGR telah menembus Upper Bollinger Band sehingga membuka peluang terjadinya koreksi sehat untuk sementara waktu ke kisaran 10000 – 10400. Manfaatkan potensi koreksi untuk melakukan Buy On Weakness. Target pola Double Bottom SMGR berada pada level 11700.

Rekomendasi: Take Profit. Buy On Weakness di area 10000 – 10400.

Disclaimer ON

*dikutip dari : galeri Saham

GJTL Membentuk Inverted Head & Shoulder


GJTL berhasil bertahan di atas Down Trend Resist Line-nya & MA200 serta membentuk pola Inverted Head & Shoulder. Jika resisten selanjutnya di 2900 berhasil di tembus, GJTL berpeluang melanjutkan kenaikannya ke level 3425 dengan minor target 3125. MACD telah Golden Cross menunjukkan saham ini bergerak positif.

Rekomendasi: Buy. Stoploss level 2725.

Disclaimer ON



*dikutip dari : Galeri Saham

Naik Tajam, BEI Suspensi Saham MYOH


NILAH.COM, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara (suspensi) saham PT Myoh Technology Tbk (MYOH) mulai perdagangan Rabu (14/12) ini.

Hal ini disampaikan Ph Kadiv Pengawasan Transaksi BEI Eqy Essiqy dan Kadiv Perdagangan Saham BEI Andre P.J Toelle dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (14/12). Dijelaskan, suspensi ini dilakukan sehubungan dengan peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham MYOH sebesar Rp765 atau 180%, yaitu dari harga penutupan Rp425 pada 30 November 2011 menjadi Rp1.190 pada 13 Desember 2011. "Karenanya BEI perlu melakukan penghentian sementara perdagangan saham MYOH dalam rangka cooling down."

Penghentian sementara perdagangan saham MYOH ini dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai dengan tujuan untuk memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasinya di saham MYOH.

Para pihak yang berkepentingan diharapkan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan Perseroan.

BUMI Menguji Down Trend Resist Line


BUMI tampak sedang menguji Down Trend Resist Line-nya di area 2225 dan bertahan di atas area support 2100 – 2125. Jika BUMI berhasil kembali ke atas level ini, maka saham ini berpeluang mengakhiri konsolidasi dan menguat menuju 2500 dengan minor target di 2325. MACD yang meningkat menunjukkan saham ini bergerak positif.

Rekomendasi: Buy On Weakness. Stoploss level 2100.

Disclaimer ON

*di kutip dari : Galeri Saham

Tuesday, December 13, 2011

Saham-saham untuk Trading

Jika anda mencari saham untuk simpanan jangka panjang, maka anda harus menetapkan kriteria yang lumayan ketat. Saham tersebut tidak hanya harus memiliki kinerja (fundamental) yang bagus, dan juga pergerakan harga yang wajar (mengikuti pola teknikalnya), tetapi juga harus memiliki prospek bahwa kinerjanya yang bagus tersebut akan berlanjut di masa mendatang. Dan yang paling penting, valuasinya masih murah. Sementara kalau anda mencari saham untuk trading, maka kriterianya sedikit lebih longgar. Asalkan fundamentalnya bagus dan pergerakan harganya wajar, maka saham tersebut sudah bisa dipakai buat trading.

Karena faktor kriteria diatas, maka saham yang bisa dipakai buat trading belum tentu bisa dipakai untuk simpanan (investasi). Sementara saham yang bisa dijadikan simpanan, biasanya bisa pula dipakai untuk trading. Beberapa investor terkadang mengkombinasikan kedua hal tersebut (investasi dan trading) untuk lebih memaksimalkan keuntungan. Contohnya, saham A yang harganya Rp1,000, setelah dianalisis ternyata bagus buat investasi, dan berpotensi melaju ke Rp1,700 dalam setahun kedepan. Kalau anda beli saham A tersebut kemudian didiamkan, maka anda berpeluang memperoleh keuntungan 70% dalam setahun.

Nah, dalam perjalannya, tentunya saham A nggak akan terus-terusan naik hingga mencapai posisi 1,700 tadi, melainkan akan diselingi dengan penurunan sesekali (terjadi fluktuasi). Kalau anda men-trading-kan saham A ini, maka anda bisa memperoleh keuntungan tambahan dari fluktuasi tersebut. Misalnya setelah saham A anda beli, hanya dalam seminggu dia langsung terbang ke 1,250. Setelah anda cek teknikalnya, kenaikan tersebut terlalu cepat sehingga kemungkinan besar dia akan turun. Maka anda bisa jual saham A dan memperoleh keuntungan 25%, kemudian tunggu sampai dia turun, katakanlah ke 1,100, kemudian anda beli lagi pada harga tersebut. Kemudian anda diamkan lagi. Kalau sewaktu-waktu kenaikan yang terjadi sudah mentok, maka anda jual kembali saham A tersebut, tunggu dia turun, lalu beli lagi. Dengan cara ini, maka anda akan memperoleh gain lebih dari 70% dalam setahun. Mungkin bisa sampai 100%, atau lebih, hanya dari satu saham saja.

Masalahnya, seringkali kemudian muncul kejadian seperti ini: Ketika anda menjual saham A di harga 1,250, saham tersebut bukannya turun tapi malah naik ke 1,300. It’s okay, anda tetap yakin bahwa saham A akan kembali turun. Tetapi setelah ditunggu-tunggu, saham A bukannya beneran turun, tetapi malah naik kembali ke 1,350. Maka dalam hal ini anda akan terjebak dilema: Kalau anda beli lagi saham A di harga 1,350, maka anda tidak hanya kehilangan potensi gain sebesar 100 perak (dari 1,250 ke 1,350), tetapi anda juga mengambil risiko mengalami kerugian jika saham A tersebut akhirnya benar-benar turun seperti yang diperkirakan. Disisi lain kalau anda nggak kembali membeli saham A, maka bukan tidak mungkin saham A akan teruuuss saja naik sampai TP-nya tadi yaitu 1,700, namun anda nggak dapet apa-apa, karena anda kan nggak megang barangnya?

Tak peduli semahir apapun anda dalam melakukan trading, anda pasti pernah mengalami hal diatas. Karena itulah kalau menurut penulis, kalau anda sejak awal membeli sebuah saham untuk tujuan investasi, katakanlah untuk 1 tahun, maka saham tersebut ya dipake buat simpanan aja, alias diemin aja sampai TP-nya tercapai. Kecuali kalau dalam perjalanannya selama 1 tahun tersebut terjadi hal-hal yang memaksa TP tadi untuk direvisi, misalnya terjadi koreksi IHSG, beredarnya berita yang memberikan sentimen negatif terhadap si saham, atau kinerja emiten yang bersangkutan di kuartal berikutnya tidak berjalan lancar seperti yang diperkirakan sebelumnya, maka barulah anda bisa keluar.

Sementara kalau anda mau trading, anda bisa memilih saham-saham yang memang ‘didesain’ untuk trading. Penulis biasanya memilih saham-saham yang penulis tahu bahwa saham tersebut ‘nggak akan kemana-mana’, alias harganya gak akan berubah-ubah kecuali karena faktor fluktuasi. Misalnya saham A, rata-rata harganya dalam 3 bulan terakhir adalah 1,000. Kadang-kadang dia naik ke 1,200, kadang-kadang dia turun ke 900. Sementara dilihat dari kualitas fundamentalnya, saham A ini terlalu mahal kalau dihargai diatas 1,200, sehingga dia tidak berpotensi untuk naik lebih tinggi dari 1,200 (kecuali kalau sengaja dinaikkan oleh pihak-pihak tertentu). Disisi lain, fundamental A juga nggak jelek-jelek amat, sehingga dia nggak bisa turun lebih rendah dari 900 (sekali lagi, kecuali kalau sengaja diturunkan oleh pihak-pihak tertentu).

Ibaratnya begini. Ketika si ‘kereta’ berhenti di stasiun 900 (saham A turun ke 900), anda bisa naik kereta tersebut (anda beli sahamnya). Anda kemudian bisa turun ketika si kereta berhenti di stasiun 1,000, 1,100, atau 1,200. Semakin jauh ‘perjalanan’ anda, maka tentunya semakin besar persentase keuntungan yang anda peroleh. Maksimalnya bisa sampai 30% (dari 900 ke 1,200). Ketika si kereta sedang berada di stasiun 1,200 dan anda sudah berada diluar, maka anda bisa duduk santai sambil menunggu, karena anda tahu bahwa si kereta akan balik lagi ke stasiun 900, atau setidaknya stasiun 1,000, dimana anda bisa naik lagi dari situ. Dan seterusnya.

Dengan cara ini, kecil kemungkinan anda bisa ‘ketinggalan kereta’ seperti kalau anda memilih saham yang berpotensi terus menguat dalam jangka panjang. Karena meskipun kalau anda kebetulan sedang berada diluar kereta ketika si kereta tersebut melaju kencang, maka anda gak usah khawatir karena anda tahu persis bahwa kereta tersebut balik lagi (turun lagi) ke stasiun dimana anda bisa naik.

Okay, terus saham-saham apa saja yang bisa kita jadikan ‘kereta’ seperti ilustrasi diatas?

Dalam situasi market yang tidak begitu kondusif, maka ada satu hal lagi yang sebaiknya juga diperhatikan dalam memilih saham-saham yang bagus untuk trading, yaitu: Ambillah saham-saham yang kinerjanya cukup bagus, dan kinerjanya yang cukup bagus tersebut diperkirakan tidak akan terlalu terpengaruh oleh krisis, seandainya krisis tersebut benar-benar terjadi. Dari kriteria tersebut, penulis kemudian menyaring sekian banyak saham, dan diperoleh tiga saham yaitu Telkom (TLKM), Kalbe Farma (KLBF), dan Unilever Indonesia (UNVR).

TLKM merupakan pemain terbesar di industri telekomunikasi. Kita tahu bahwa pertumbuhan industri ini sedang lambat karena semakin ketatnya persaingan, sementara TLKM sendiri kinerjanya memang jalan ditempat. Tetapi industri ini hampir tidak mungkin akan mati, karena biar bagaimanapun semua orang akan tetap membutuhkan telepon, SMS, dan akses internet setiap hari, bahkan meski sedang krisis sekalipun. Saham yang fundamentalnya bagus di sektor ini ada dua, yaitu TLKM, dan XL Axiata (EXCL). TLKM lebih bisa dijadikan pilihan karena valuasi EXCL relatif mahal. Peraturan trading di TLKM ini sederhana saja: Masuk di 7,100-an atau dibawahnya, keluar di 7,500-an.

Selain industri telekomunikasi, industri farmasi juga bisa kita perhatikan karena dalam kondisi seburuk apapun, orang-orang akan selalu membutuhkan obat-obatan. Dan saham yang bisa dipakai di sektor ini adalah KLBF. Memang, di sektor farmasi juga terdapat beberapa ‘rising star’, seperti Kimia Farma (KAEF), dan Indofarma (INAF), yang kinerjanya melejit beberapa waktu terakhir ini. Tapi kalau mau trading, KLBF adalah pilihan yang paling bagus. Masuk dan keluarnya di level 3,300 dan 3,500.

Terakhir, UNVR, merupakan saham paling kesohor di sektor consumer goods, sekaligus merupakan salah satu saham dengan fundamental terbaik di BEI. Kita tahu bahwa industri kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi, sabun cuci, shampoo, dan pewangi ruangan, merupakan industri yang terbukti kebal terhadap krisis. Jadi UNVR ini kemungkinan akan menjadi saham yang paling terakhir jatuh, jika kondisi terburuk benar-benar terjadi. Dengan karakter seperti itu, maka seharusnya UNVR bisa dipakai buat simpanan long term. Namun mengingat valuasinya yang selangit, dan UNVR ini ukuran perusahaannya dari dulu segitu-gitu aja (laba yang diperoleh tidak disimpan sebagai saldo laba, melainkan habis dibagikan dalam bentuk dividen), maka harga sahamnya pun sejak setahun terakhir segitu-gitu aja. Ketika artikel ini ditulis, UNVR berada di posisi 17,550, posisi yang secara historis sudah cukup tinggi. Jadi anda bisa tunggu dia balik lagi ke 16,000-an atau dibawahnya, kemudian baru masuk.

Baiklah, mungkin itu saja dari penulis. Ada yang mau menambahkan? Karena saham-saham yang bisa dipakai buat trading tentunya nggak terbatas pada tiga saham diatas saja. Oh iya satu hal lagi. Diatas kan penulis mengatakan bahwa ‘saham A nggak bisa turun lebih rendah dari 900, kecuali kalau sengaja diturunkan oleh pihak-pihak tertentu’. Artinya, meskipun anda sudah menganalisis dengan sangat teliti dan sampai pada kesimpulan bahwa saham A tidak akan turun lebih rendah dari 900, namun kesimpulan anda tersebut bisa menjadi mentah begitu saja, kalau saham A ternyata dimainkan oleh bandar.

Kalau begitu gimana solusinya? Well, untuk lebih amannya anda bisa memfokuskan trading anda pada saham-saham non-recehan (yang harga per lembarnya minimal Rp1,000, atau Rp2,000). Sebab para bandar ini, sebanyak apapun dana yang mereka miliki, tetap saja dana tersebut jumlahnya terbatas, sehingga mereka biasanya nggak akan sanggup memainkan saham-saham yang nominalnya besar. Memang, trading pada saham-saham sekelas bluchip sekalipun tetap saja tidak akan aman 100% dari para bandar, terutama bandar asing yang modalnya besar-besar. Tetapi setidaknya risiko adanya campur tangan bandar pada trading di saham-saham dengan nominal besar ini, lebih rendah dibanding jika anda trading menggunakan saham-saham recehan.

*di kutip dari : teguhidx.

3 Tanda Dia Akan Menjadi Jodoh Anda

Belum yakin dengan pasangan Anda saat ini, meski tali kasih yang dibina sudah cukup lama? Tandai lewat sinyal ini untuk memberikan keyakinan di hati bahwa dialah jodoh terbaik dari Tuhan untuk Anda.
Menemukan Mr Right memang tidaklah mudah. Kelokan berliku dalam perjalanan cinta Anda pasti akan mewarnainya. Meski demikian, Anda jangan dulu patah semangat dibuatnya. Karena senyum merekah akan segera terbit ketika pria yang Anda kencani sekarang adalah jodoh untuk Anda.

Meski jodoh adalah rahasia Tuhan, namun Anda pun dapat menandainya lewat beberapa sinyal berikut, seperti diulas Sheknows.

1. Banyak kesamaan antara Anda dan dia
Jika dia dan Anda menemukan banyak kecocokan satu sama lain, biasanya ini adalah tanda bahwa Anda berdua berjodoh. Jadi, gali lebih dalam tentang Anda dan dirinya agar banyak menemukan kesamaan lainnya. Memiliki banyak kecocokan akan membuat chemistry kian kuat. Akhirnya, jalinan cinta pun bakal kian rekat, di mana Anda berdua bisa saling berbagi satu sama lain.

2. Dapat mengerti komunikasi satu sama lain
Ketika pria dan wanita bisa menguasai seni komunikasi, maka tingkat perceraian pun akan menurun. Masalah komunikasi memiliki peran sentral dalam sebuah hubungan. Jadi ketika Anda merasa cocok dengannya dan tak terlibat masalah komunikasi dengan si dia, kabar baiknya adalah kemungkinan besar dia merupakan jodoh Anda.

3. Punya selera humor
Memiliki selera humor akan mendatangkan keuntungan tersendiri bagi hubungan Anda. Dengan melayangkan humor, kebekuan pun takkan lagi tercipta. Tak hanya itu, serangan stres pun akan segera hilang. Apalagi dengan terkoneksi selera humor bersama pasangan, bukan hanya ketegangan yang akan mencair, tapi juga keintiman pun bakal terjalin.

Tandanya Anda Berhubungan Dengan Orang yang Salah

Hubungan cinta yang telah berjalan lama, namun tak juga berujung pada pernikahan kadang menimbulkan pertanyaan "Apakah ia orang yang tepat?".

Berikut beberapa tanda bahwa Anda telah memilih pasangan yang tidak tepat.

1. Tidak bahagia
Walau memiliki pasangan, namun saat bersamanya Anda tak merasa bahagia. Bahkan tak jarang Anda sengaja menghindari jadwal-jadwal bertemu dan kencan. jika ketidakbahagiaan sudah melanda, untuk apa sebuah hubungan harus diteruskan?

2. Merasa rendah diri saat bersama pasangan
Bersama pasangan tak membuat Anda tersenyum bahagia, sebaliknya perasaan rendah diri justru melanda. Sikap pasangan yang dominan dan superior membuat Anda selalu merasa melakukan kesalahan. Apapun yang Anda lakukan seakan tak pernah cukup baginya.

3. Membuat Anda jauh dari sahabat juga keluarga
Pasangan seolah ingin memiliki Anda sendirian. Jangankan untuk bersilaturahmi dengan sahabat, bertemu dan mengambil hati orang tua Anda saja ia enggan melakukannya. Ketimbang bertandang ke rumah dan mengakrabkan diri dengan keluarga, kekasih lebih suka mengatur janji untuk bertemu Anda di tempat lain. Misalnya pusat perbelanjaan.

4. Tidak memiliki tujuan yang sama
Jika ingin hubungan menuju ke jenjang yang serius, tentunya Anda dan pasangan harus memiliki tujuan hidup yang sama. Jika sudah menjalankan hubungan sekian lama, namun Anda dan pasangan tetap tidak memiliki tujuan yang sama, maka ada baiknya untuk menilai ulang hubungan tersebut.

5. Menyangkal kebenaran
Anda sudah menyadari ada yang salah dengan hubungan yang tengah dijalani. Namun entah karena apa, Anda terus melakukan penyangkalan. Terkadang tekanan dari umur yang terus bertambah serta keinginan untuk segera menikah membuat hati dan pikiran Anda tak bisa melihat kesalahan-kesalahan yang ada dalam hubungan. Jangan sampai terjebak dalam kesalahan ini, dan membuat keputusan yang akan Anda sesali seumur hidup.

Memilih pasangan hidup bukanlah sesuatu yang harus dilakukan terburu-buru dan di dalam tekanan apalagi ketepaksaan. Jangan sampai salah memilih pasangan hidup.

(di kutip dari :*Oleh Amelia Ayu Kinanti)