Wednesday, June 25, 2014

Anggap Saja Prabowo Presiden


Saya Mau Share tulisan seorang Teman :
KALAU tidak salah foto ini saya ambil seminggu setelah peristiwa Trisakti 1998 di Seskoad Bandung, tepatnya tanggal berapa saya lupa. Saya termasuk wartawan foto yang beruntung saat itu. Karena masa itu, Pak Prabowo sulit sekali ditemui. Dan sayapun sebenarnya dilarang meliput acara ini, tetapi entah mengapa saya bisa juga masuk. Namun sehabis mendapatkan foto ini saya langsung digiring keluar. Tidak diperbolehkam masuk lagi sampai selesai acara. Namun foto ini (dalam tulisan ini, red) karya saya. Asli saya yang memotret. Kalo Tim Kampanye Prabowo mau memakai silahkan saja. Tak perlu dibayar. Silahkan dipakai sepuasnya. Lalu apa hubungannya foto ini dengan pemilu?
Mari kita hubungkan. Yang jelas Prabowo nyapres sekarang. Masa 1998, dia adalah orang paling getol melawan pergerakan mahasiswa. Bukti, adanya Tim Mawar yang sudah diakui dan Prabowo menggerakkannya. Yah, Prabowo sekarang sudah menjalani masa hukumannya dan mempunyai hak politik untuk nyapres. Silahkan saja. Anggap aja Prabowo lolos jadi presiden.
Latar belakang dia yang ditutup dengan karir tidak baik di TNI. Lalu jadi presiden, ini akan menjadi duri dalam daging. Percayalah, jalannya pemerintah dia pegang dia tidak berjalan baik. Pemerintahan Prabowo pasti terseok seok.

Isu HAM jadi bom waktu. Bola panas yg bisa digulirkan kapan saja. Entah dari kubu siapa saja. Jangan jangan dari kubunya sendiri pun bisa. Saya percaya ini sangat bisa terjadi. Ingat peristiwa Gus Dur di suruh pulang dari Istana? Pasti tahu dong siapa yg paling getol nyuruh Gus Dur pergi dari istana. Orang itu sekarang ada di kubu Prabowo. Menjadi penasihatnya Prabowo. Tidak tertutup kemungkinan, hal ini akan terjadi. Prabowo bisa di-Gusdur-kan dalam masa setahun, dua tahun, tiga tahun. Tinggal maslaah waktu saja. Remote control itu di otak atik. Selesailah pemerintahannya. Lalu parlemen bersidang terus. Isu pemilu lagi. Demo yang pro dan kontra terus ada di jalanan. Bisa bisa setiap hari demonstrasi di jalanan protokol ibukota. Ingat, mei 1998 sampai masa akhir pemerintahannya Habibie, hampir tidak putus demontrasi tiap hari di jalanan. Semua stasiun tivi mengemas berita dalam segala hal. Mulai dari kritisi sampai dukung mendukung. Alhasil, ekonomi pasti tidak berjalan dengan baik. Investor takut masuk ke Indonesia. Uang kabur ke luar Indonesia. Rakyat tambah sengsara. Pengangguran dimana mana.

Saya tidak menakut nakuti. Tapi ini bisa menjadi agenda beberapa orang untuk membuat Indonesia tidak hebat hebat. Kita tidak tahu siapa. Tapi yang pasti, orang itu orang orang jahat. Bayangkan kamu berjalan memakai sepatu yang di dalamnya berpasir. Tinggal menunggu waktu lecet. Dan lepas itu sepatu. Nah, kalo ada orang baik mau bikin perubahan kenapa ngga kita dukung.
Sedikit tentang saya. Garis keluarga saya adalah orang PNI. Dulu Nenek saya adalah mantan wakil ketua PDI di kota kabupaten asal saya. Nenek saya bosan keluar masuk penjara. Dari umur 12 tahun saya sering dibawa ikut rapat rapat PDI. Karna saya memang cucu pertama nenek jadi sering menempellah. Pemandangan yang sangat biasa buat saya adalah orang berdebat gebrak meja lalu pulangnya berpelukan. Bahkan kampanye pun saya ikut membantu mengangkat-angkat barang. Tanpa dibayar yar. Ikut bantu bantulah. Lebih sedih lagi, ibu saya yang masa itu jadi saksi PDI di TPS kami berada. Jadi bahan olokan tetangga. Saya masih ingat ibu dan bapak saya berdoa sebelum berangkat TPS. Mereka berdoa berpelukan sambil menangis. Ngga bakal gue lupa peristiwa ini.
Alhasil, suara di TPS kami PDI hanya 2 suara saja. Pasti suara ibu dan bapak saya. Selainnya Golkar dan PPP. Ngga jarang di permainan teman teman kecilku, kalimat PDI sering terpleset PKI.Ironisnya, nenek saya yang wakil ketua saat itu dikerjain sama rekan separtai sendiri. Sengaja dikasih nomor urut gagal. Wakil Ketua lho. Nah, ini sedikit sejarah ke-Banteng-an gue. Kalo diceritain masih banyak dan panjang.

Lalu, bukan berarti asal capres PDI-P saya dukung. Bukan berarti asal kebijakan PDI-P saya setujui. Tidak sama sekali. Kalau tidak berpihak kepada rakyat, saya harus lawan. Siapapun itu. Termasuk PDI-P.

Karena pekerjaan saya fotografer, seringlah bertugas ke luar Jakarta. Suatu ketika ada pekerjaan di Solo, saya menginap hampir seminggu di Hotel Novotel Solo. Karena bosan sarapan di hotel terus, beberapa hari saya mencoba mencari sarapan di kaki lima. Lalu bertemulah saya di emperan kaki lima dengan penjual nasi liwet, Ibu Sum namanya. Tidak jauh dari Hotel Novotel Solo. Beberapa hari saya sarapan nasi liwet dia. Karena beberapa kali bertemu terjalinlah pembicaraan saya dengan Ibu Sum. Lalu jatuhlah ke topik walikota Solo yang lagi happening, Jokowi. saya bilang, saya dengar walikota ini sangat merakyat ya buu? … Tahu apa jawab Ibu Sum? “Itu nasi yang kamu makan berasnya dari Pak Jokowi to mas?” Dalam hati saya pikir kok bisa?

Kata Ibu Sum lagi, “lihat saja palingan bentar lagi dia singgahin sini lagi berasnya.” Tidak lama berselang, lewatlah sedan hitam Toyota, saya lupa plat nomor dan type sedannya. Turunlah seorang bapak yang kurus, mengangkat sekarung beras bersama sopirnya memberikan ke Ibu Sum. Lalu langsung pergi sambil mengangguk lempar senyum ke saya. Saya tidak mengenal siapa orang ini. Sayapun senyum saja. Ibu Sum menepuk saya, “itu to mas Pak Jokowi.” Air mata saya keluar seketika.

Kita Pemilu lagi ne cui. Anda tidak peduli. Atau golput. Atau nyoblos. Presiden anda harus baru. Saya tidak mau Indonesia gampang di otak-atik orang orang jahat. Indonesia masih mempunyai harapan. Indonesia masih mempunyai pemimpin yang pro rakyat. Hari ini dia nyapres, buat memimpin Indonesia yang pro rakyat: Jokowi.
Saya tidak mendewa-dewakan dia. Buat saya dia adalah sosok putra Indonesia yang benar. Dia tidak jago berpidato. Wajahnya kampungan. Tapi pikiran dan kerjanya Indonesia. Dan Indonesia. Kalo ada pemimpin tulus, jujur dan baik yang mau membereskan Indonesia, mengapa tidak didukung? Sesederhana itu aja. Mari kita anggap, Prabowo presiden. Anggap saja. 9 Juli coblos Jokowi. Salam Dua Jari.

penulis : * Peter Julio Tarigan, Storytelling Photographer, tinggal di Jakarta. Bisa dihubungi lewat twitter dan instagram @peter_julio

No comments:

Post a Comment