Tuesday, April 17, 2012

“The Lady,” Film yang Penuh Inspirasi Menjelang Hari Kartini

Dimulai dari suatu pagi di halaman sebuah rumah tampak seorang bocah perempuan bermanja dengan ayahnya yang akan berangkat kerja. Bocah tersebut adalah Aung San Suu Kyi kecil dengan latar tahun 1947, dan pagi itu adalah untuk terakhirkalinya beliau berjumpa ayahnya, yang kemudian mati terbunuh oleh kelompok rejim militer penguasa negara Burma.

Selanjutnya film melompat ke tahun 1998, yang menceritakan seorang pria Michael Aris, pria yang merupakan suami Aung San Suu Kyi, warga negara Inggris bertempat tinggal di Oxfort, yang menderita penyakit kanker, namun tak dapat berjumpa dengan istrinya yang menjadi tahanan politik di negara Burma. dan kembali lagi ke tahun 1988 dimana pada tahun itu adalah tahun kembalinya Aung San Suu Kyi ke Burma, terpanggil kembali oleh berita ibunya yang sakit, hingga akhirnya mendapat kepercayaan untuk memimpin terciptanya demokrasi di Burma.

Film yang begitu luarbiasa, berdurasi lebih dari 2 jam. Film yang menceritakan kehidupan, cinta dan perjuangan pemimpin wanita Burma, penerima Nobel Perdamaian tahun 1991 Aung San Suu Kyi, berhasil membuat saya larut terharu dan turut bersemangat mengikuti perjalanan beliau.

Aung San Suu Kyi merupakan putri dari Jenderal Aung San. Menjalini kehidupan dewasanya di Inggris sebagai seorang istri dari penulis dan akademisi Michael Aris di Oxford. Kehidupan awal yang normal sebagai istri dan ibu dari dua putra, hingga panggilan pulang ke Burma merubah segalanya, begitu beliau mendapat kepercayaan untuk memimpin demokrasi di Burma. Perjuangan Suu - demikian beliau dipanggil oleh suaminya - sungguh luarbiasa, ketegaran dan kekuatan seorang perempuan yang mendapat tekanan begitu hebat dari pihak rezim penguasa tak mengalahkan tekadnya, didukung dengan kepercayaan masyarakat burma khususnya masyarakat akademisi dan biarawan yang muak dengan rezim militer.

Bagi saya, film ini memberi begitu banyak inspirasi. Mengkisahkan bagaimana seorang wanita, menjalani kehidupannya sebagai istri, ibu, sekaligus pemimpin suatu bangsa. Cinta yang indah seorang istri kepada suami. Kasih sayang yang tulus seorang ibu terhadap anak-anaknya. Lemahnya seorang wanita saat kehilangan orang yang di kasihi dan rapuhnya saat pria yang dicintainya sakit dan tak dapat mendampingi suaminya saat meninggal. Perjuangannya yang walau tanpa kekerasan namun dapat menggetarkan para pemimpin militer. Kekuatannya bertahan selama masa tahanan rumah dan tahanan politik. Kerja kerasnya yang meyakinkan dunia sehingga layak mendapatkan Nobel Perdamaian. Dan sebagai wanita, beliau juga menunjukkan kecantikan seorang wanita yang mempesona. Beliau tak lupa untuk menghias sanggul rambutnya dengan bunga-bunga segar, dan selalu mengenakan kain dan pakaian tradisional Burma.

Tokoh Aung San Suu Kyi di perankan secara apik oleh Michelle Yeoh, menampilkan sosok seakan dirasuki jiwaraga Aung San Suu Kyi yang sebenarnya, berhasil membuat para penonton terpesona dan terpukau dengan perannya yang sempurna.


source : kompasiana.com

No comments:

Post a Comment